“Megawati, Politisi Terkuat Di Indonesia Yang Kerap Salah Dimengerti”

Menuju Ulang Tahun ke-76, Ibu dan Guru Bangsa, 23 Januari 2023. Semoga sehat selalu dan panjang umur

Ditulis : Anton DH Nugrahanto

Tanggal 23 Januari adalah hari ulang tahun Megawati. Politisi terkuat di Indonesia itu lahir ketika langit Yogya pada tahun 1947 berwarna kelam dan mendung bergayut di sekitaran Istana Kepresidenan Yogyakarta.

Warna kelam langit Yogya seolah menggambarkan perjalanan hidupnya yang melewati kekelaman sejarah negeri ini namun kemudian berhasil dengan gemilang melewati kekelaman itu, dengan kemenangan se-indah pelangi setelah hujan.

Bila Sukarno melewati pergolakan politik dengan cara komunikatif, maka Megawati melewati pertarungan politik dengan penuh perhitungan dengan membaca keadaan dan karakter orang.

Inilah yang membedakan karakter Sukarno dan Megawati dalam berpolitik.

Tetapi ada satu kesamaan persis keduanya, yaitu : integritas dalam memegang cita cita idealisme politiknya.

Sukarno sampai wafatnya memegang ide BERDIKARI-nya Indonesia dengan cita-cita TRI SAKTI. Sementara Megawati memegang teguh cita cita idealisme Indonesia Berdikari lewat demokrasi gotong  royong yang ia percayai sekeras apapun gelombang politik yang ia hadapi.

Megawati tumbuh dalam situasi kenegaraan yang kental, ketat dengan aturan protokoler. Sepertinya dia sengaja disiapkan oleh Presiden Sukarno, sebagai ‘Gadis Negara’, dengan tugas sebagai perwakilan untuk menerima tamu-tamu kenegaraan.

Apalagi tahun 1960-an awal, Indonesia sedang hebat hebatnya dalam politik diplomasi Internasional, berbagai tamu penting negara silih berganti hadir. Di suasana inilah Megawati dibesarkan.

Namun antara tahun 1965-1966 masa kelam politik Indonesia terjadi, peristiwa Gestok 1965 membuat Presiden Sukarno secara bertahap dilumpuhkan kekuasaannya pada semua sisi.

Di tahun tahun inilah Megawati kerap melihat banyak pengkhianatan yang dilakukan oleh orang orang di sekeliling Bung Karno.

Inilah periode awal terbentuknya karakter pendiam Megawati yang kemudian melatih dirinya dalam ber-intuisi, mengamati dan melihat karakter orang. Karena itulah kemudian baginya politik adalah soal “karakter” orang, setia atau tidak pada cita-cita politiknya.

Ditengah gelombang pengkhianatan terhadap Bung Karno pada lapisan elite negara, Megawati memperhatikan bahwa justru cita-cita politik Sukarno masih dipegang dengan baik oleh jutaan rakyat di akar rumput.

Di titik inilah kemudian Megawati kelak mempercayai kekuatan basis Sukarnois ada di lapisan massa rakyat bawah atau wong cilik.

Sepanjang tahun 1970-an Megawati sepenuhnya menjalani peran sebagai Ibu Rumah Tangga. Suami pertama-nya seorang pilot Angkatan Udara, Kapten. (Anm) Surindro Supjarso, dinyatakan gugur dalam tugas saat terbang di atas perairan Biak, di Irian Jaya.

Berbagai rumor menyebutkan bahwa Kapten. Surindro sengaja “dihilangkan” rezim oleh Orde Baru, konon hal ini terjadi karena ada ramalan bahwa “Kekuatan Sukarnois akan muncul dari Megawati”. Jenazah almarhum Surindro tidak pernah ditemukan hingga hari ini.

Beberapa tahun kemudian Megawati menikah dengan Taufik Kiemas, unsur Sukarnois dari kalangan pergerakan aktivis mahasiswa GMNI yang juga pernah dipenjarakan oleh rezim militer Suharto.

Dari Taufik Kiemas ini juga Megawati membaca dan memahami bahwa kekuatan muda Sukarnois itu banyak sekali. Kalangan intelektual muda pada generasi 1970-an menjadikan Bung Karno sebagai idola mereka, apalagi kebijakan Orde Baru saat itu masih sangat bergantung pada Blok Barat.

Sebuah aliansi politik anti berdikari yang keterlaluan sehingga melahirkan perlawanan mahasiswa sepanjang tahun 1973 lalu dilakukan operasi intelijen menjebak mahasiswa pada 15 Januari 1974 yang dikenal peristiwa Malari.

Walaupun sejatinya perlawanan mahasiswa selama kurun 1971-1974 digerakkan oleh unsur intelektual dan mahasiswa PSI (Partai Sosialis Indonesia), namun substansi perlawanan mahasiswa itu justru kental diwarnai doktrin Sukarno soal “Kemandirian Bangsa”.

Sebuah pandangan yang tidak pernah digubris Orde Baru yang mantra pembangunannya adalah konglomerasi dan kapitalisme barat.

“Kebangkitan Sukarnois Tahun 1986”

Puncak dari kebangkitan kaum Sukarnois di Indonesia secara nyata terlihat sejak tahun 1986. Saat itu kelompok Sukarnois mendapatkan ruang dalam “politik negara” di dalam wadah Partai Politik PDI.

Masuknya Kaum Sukarnois tersebut ke dalam ruang politik formal tidak terlepas dari kelengahan Orde Baru, yang saat itu sedang sibuk menghabisi kubu NU di PPP sehingga melonggarkan pengawasan pada PDI.

Di saat itulah Suryadi yang ingin meningkatkan suara Partai merekrut Megawati menjadi Caleg PDI untuk Dapil Jawa Tengah, wilayah basis Sukarnois terkuat di Indonesia.

Masuknya Megawati memberi kesempatan untuk berinteraksi dengan jaringan Sukarnois di akar rumput yang jumlahnya puluhan juta dan selama masa Orde Baru terpaksa ‘tiarap’.

Infiltrasi Megawati dalam menggoyang kekuasaan Orde Baru justru dilakukan pada tingkat paling bawah. Megawati dengan telaten membangun jejaring politik akar rumput di seluruh Indonesia.

Aktivitas inilah yang kemudian membuat PDI Perjuangan memiliki mesin partai yang kuat dan solid dalam memobilisasi rakyat. Megawati pada masa itu meletakkan dasar-dasar komunikasi dan struktur partai di tingkat paling bawah.

Pembentukan jejaring politik inilah yang tidak terbaca oleh intelijen Orde Baru, karena hanya fokus mengawasi (pola perilaku) elite dalam pertarungan politik.

Di tahun 1991 jaringan yang dibina Megawati membesar dan menjadi satu kekuatan politik riil yang membawa Megawati ke pusaran utama pimpinan PDI.

Sesuatu yang membuat intelijen Orde Baru kelabakan dan menimbulkan kemarahan Soeharto dan TNI AD. Tahun 1992, kemenangan PDI sangat mencolok dengan persentase suara mencapai 14%, atau setara 56 kursi.

Jadi sejak masuknya Megawati tahun 1986 ada penambahan 36 kursi di Parlemen. Hal inilah yang kemudian membuat Orde Baru sontak ketar ketir melihat fenomena bangkitnya kekuatan Sukarnois di belakang Megawati.

Pemilu di masa-masa Orde Baru biasanya berlangsung penuh kecurangan, rekayasa dan intimidasi. Sehingga meningkatnya suara pemilih PDI adalah fakta politik bahwa kekuatan Orde Baru mulai digoyang para pengikut Sukarno.

Tahun 1993 bisa dikatakan adalah ‘Tahun Kemenangan Megawati’ karena di tahun ini ia bisa mengatasi berbagai gelombang operasi intelijen Orde Baru yang menghalangi terpilihnya Megawati menjadi Ketua Umum PDI.

Di tahun itulah Megawati bisa berhadapan langsung dengan Suharto di Bina Graha, sebuah drama perjumpaan “head to head” yang menggetarkan semua orang pada saat itu.

Di tahun 1996 Suharto seperti kehabisan akal menghadapi Megawati, ia melakukan tindakan yang sangat kasar dan menargetkan Megawati diturunkan dari Ketua Umum PDI sebelum Pemilu 1997.

Alat yang dipakai Suharto adalah Ketua PDI sebelum masa Megawati yaitu Suryadi dan beberapa elemen ormas binaan Orde Baru juga aparat militer yang disamarkan.

Serangan berdarah ke kantor PDI pada Sabtu kelabu tanggal 27 Juli 1996 (Kudatuli) menjadi catatan kelam dalam sejarah demokrasi Orde Baru.

Tapi di titik inilah Megawati justru bisa melihat kekuatan dirinya sebagai pewaris Soekarnoisme yang sebenarnya. Megawati memboikot Pemilu 1997 dan walhasil perolehan suara PDI anjlok total hanya 3,06% setelah suaranya berhasil didongkrak hingga 14% saat Megawati masih jadi kader PDI.

“Megawati, Media dan Politik Pencitraan”

Satu hal yang bisa dibaca dari karakter Megawati adalah membangun dan membaca politik berdasarkan realitas. Ia percaya kekuatan politik dan perilaku harus berdasarkan kondisi sebenarnya. Dan ia sangat pendiam, tidak banyak bicara.

Karakter ini sangat membantunya untuk melihat perkembangan, membaca karakter orang dan membangun intuisi-nya dalam mengarahkan Partai, kekuatan pendukung, juga membaca lawan politiknya.

Setelah jatuhannya Suharto tahun 1998, PDI diubah oleh Megawati menjadi PDI Perjuangan, dengan lambang partai yang baru dan ikut dalam Pemilu 1999 yang bertumpu pada kekuatan massa rakyat.

Di tahun itu pula PDI Perjuangan memperoleh suara terbesar yang rekornya belum terpecahkan sepanjang masa reformasi 33,75%, bisa dibayangkan betapa massif nya pendukung Sukarno dalam politik di Indonesia.

Karakter Megawati yang irit bicara dan tidak mudah didekati media dibaca oleh lawan politik yang tiba-tiba muncul menantang Megawati dalam bursa pencalonan Presiden di tahun 2004, Susilo Bambang Yudhoyono.

Tim SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) membaca Megawati punya kelemahan dalam komunikasi dengan media. Maka sepanjang tahun 2004 terjadi semacam operasi media besar-besaran, yang di tengarai berada dibawah kendali tim SBY untuk melakukan ‘pembunuhan karakter’ terhadap Megawati.

Operasi pembantaian sosok Megawati melalui media massa yang dilakukan SBY sangat berhasil, dan ini dikontraskan dengan strategi pencitraan SBY yang diangkat habis-habisan oleh tim media-nya.

Dari sinilah Megawati membaca bahwa SBY adalah orang yang tidak bisa dipercaya dan akhirnya Partai Demokrat bisa dikatakan musuh abadi PDI Perjuangan.

Apalagi kemudian diikuti dengan peristiwa “pengkhianatan” SBY yang mengaku setia pada Megawati dan tidak akan maju Pilpres, ternyata kemudian terbukti membuat Partai sendiri secara diam diam dengan dukungan “luar negeri” dan anasir militer.

Kemenangan politik Megawati dalam memilih jalan realisme politik terhadap SBY terbukti di tahun 2014.

PDI Perjuangan mengalami kemenangan besar sementara Partai Demokrat hancur lebur dan persentase perolehan suara turun drastis.

Hal ini adalah buah kesabaran Megawati dalam membangun partai dengan menjadi oposisi selama 10 tahun pemerintahan SBY. Banyak yang menganalisis bahwa sampai kapanpun PDI Perjuangan akan sulit melakukan persekutuan politik dengan Partai Demokrat karena karakter SBY itu.

Kelemahan Megawati soal komunikasi di media massa ternyata belakangan juga coba dimanfaatkan Nasdem, dengan melakukan operasi media pembantaian nama baik Megawati saat HUT Partai ke 50 kemarin.

Hal ini dilakukan karena posisi politik Nasdem yang tertekan popularitasnya karena memilih Capres yang punya rekam jejak buruk. Keputusan itu ternyata membuat hubungan Nasdem dengan Jokowi memburuk dan para pendukung Jokowi meminta Presiden untuk mengevaluasi kader Nasdem di kabinet.

Kelemahan Megawati dalam komunikasi media ternyata memiliki kelebihannya sendiri. Di sinilah Megawati bisa menilai kekuatan Partai-nya secara langsung dan menilai kekuatan lawan politiknya tanpa bias.

Di masa-masa genting menjelang pemilu seperti sekarang ini, hanya Megawati sebagai pimpinan Partai paling teguh, disiplin dan bermartabat dalam berpolitik. Apalagi dibandingkan dengan Surya Paloh, SBY ataupun Airlangga Hartarto.

Dan itulah yang menjadikan Megawati sebagai Maestro Besar Politisi Indonesia, epicentrum politik yang disegani. Dan nama besar itu juga sudah menjadi bacaan politik global, dari politik praktis hingga akademis.

 296 total views,  2 views today

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *