Edy Wuryanto Terus Bergerak Kampanyekan Tingkatkan Gizi Ibu Hamil dan Balita

  • Whatsapp

KABAROPOSISI.NET|Blora, – Lanjutkan blusukan dukung program pencegahan Stunting mulai dini ibu hamil dan balita hari ini Jumat (19/11/2021) diwilayah desa Tanjung kecamatan Kedungtuban, desa Sambongwangan kecamatan Randublatung kabupaten Blora. Bersama BKKBN propinsi hadir dalam kegiatan tersebut forkompincam dan para kader desa.

Jawa tengah Stunting tertinggi di Indonesia dengan tingkat Stunting 27,74% ini menjadi perhatian Edy Wuryanto anggota DPR RI dapil 3 fraksi PDI Perjuangan terus bergerak melakukan upaya penekan jumlah Stunting yang khususnya di kabupaten Blora.

Bacaan Lainnya

Edy Wuryanto anggota DPR RI komisi IX mengatakan, ” mengedukasi masyarakat itu penting perihal Stunting terutama pada masyarakat, Stunting ini sering terjadi ketika terjadi pernikahan dini, usia di bawah 21 tahun beresiko tinggi terhadap anak dalam kandungan kekurangan gizi sebab pengetahuan kurang dan permasalahan keluarga,” ungkapnya

” Usia dibawah 21 lebih baik jangan menikah dulu, sekolah tambah ilmu pengetahuan atau kerja terlebih dahulu setelah mapan baru menikah, ” tegasnya dalam kegiatan sosialisasi Penguatan pendataan Keluarga dan Kelompok Sasaran Bangga Kencana Bersama Mitra,”.

Lawan Stunting di Kab Blora

Sementara itu Agus Pujianto Ketua koordinator KPSK BKKBN provinsi diwawancarai langsung awak media menyampaikan, ” Sekarang mendapatkan tugas penting dalam percepatan menurunkan tingkat stunting di Jawa Tengah dengan jumlah 27,68%, artinya Jawa tengah terpaut sedikit dengan pusat, ” ungkapnya

Lebih lanjut Agus Pujianto, sebagai institusi yang langsung menangani Stunting ini mempunyai strategi untuk menangani percepatan penurunan stunting dengan program Tim Pendamping Keluarga (TPK) terdiri dari Bidan, Kader PKK, Kader BKKBN yang mempunyai tugas Mendampingi,mengawal, mengawasi warga yang beresiko stunting, seperti warga yang nikah didata masuk dalam elektronik siap nikah, ” terangnya.

Perlu diketahui untuk meningkatkan gizi tidak perlu biaya mahal dengan memanfaatkan tanaman buah buahan lokal, telur, ataupun karbohidrat dari ketela atau jagung yang mudah didapat disekitar lingkungan. (GaS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *