Tak Pernah Manggung, Terpaksa Ngamen Demi Kebutuhan Hidup

  • Whatsapp

Kabaroposisi.net.|BANYUWANGI – Panas terik dan menyengat kulit, terlihat sebuah pemandangan di Pertigaan depan Kantor Desa Singolatren Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi Rabu 25/8/2021.

Beberapa orang berkostum seni budaya “Jaranan Buto”, sedang aksi kebolehan berjoget dan akrobatis ringan di emperan pertokohan dan pemukiman warga. Tak terbayangkan betapa gerah dan berkeringatnya tubuh mereka di bawah sengatan matahari dengan kostum warna hitam di tambah dengan gerakan-gerakan.

Semula ada yang mengira itu dilakukan dalam rangka penggalian dana untuk santunan Yatim Piatu. Ternyata menurut penuturan salah satu dari mereka yang enggan disebut namanya di media itu. Bahwa apa yang dilakukannya adalah “mengamen” karena dampak Covid-19 berikut penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM), tidak pernah ada yang undang untuk manggung.

Mereka berjoget dan sesekali akrobatis dengan iringan instrumen musik daerah oleh rekan-rekannya di atas kendaraan Pick Up warna gending “Jaranan Buto”. Mereka susuri jalan di mana terlihat ada warga berkumpul berhenti kembali unjuk kebolehannya. Serupiah demi serupiah pemberian dari warga yang menonton dan beriba mereka kumpulkan.

Salah satu Tokoh masyarakat sekitar sebut saja Hartono menanggapi apa yang dilakukan grup seni “Jaranan Buto” yaitu terpaksa mengamen. Mengaku merasa kasihan dan memuji karena kegigihannya mencari nafkah untuk keluarganya.

“Saya turut prihatin namun saya memujinya karena mereka gigih tak putus asa dalam kondisi seperti ini mencarikan nafkah untuk keluarganya. Tak semua orang bisa melakukannya. Semoga saja Pemerintah ada solusi yang bijak dan terbaik untuk para pelaku seni di Banyuwangi. Sehingga mereka bisa menjalani aktivitas ekonomi sesuai bidangnya untuk menopang kebutuhan hidupnya. Paling tidak kalau memang mereka masih belum bisa manggung karena Covid-19, pastikan ada bantuan khusus kepada para pelaku seni”, ungkapnya.

Saat rombongan seni “Jaranan Buto” akan beranjak pindah ke tempat lain, sekilas terdengar ada teriakan warga medo’akannya, “Semoga banyak rejekinya yaaa”. (ktb).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *