PPKM Pelapak Pasar Wit-Witan Gak Jualan, Untuk Kebutuhan Hidup Layani Pijat Rumahan

  • Whatsapp

Kabaroposisi.net | BANYUWANGI – Sebenarnya sudah sejak memasuki masa pandemi Covi-19 aktivitas Pasar Wit-Witan Desa Alasmalang Kecamatan Singojuruh Kabupaten Banyuwangi sudah kembang kempis. Suatu waktu buka dan karena situasi tertentu sehubungan dengan naik turunnya kasus Covid-19 harus tutup.

Terlebih sejak diterapkannya PPKM Darurat yang kemudian beralih sebutan jadi PPKM Level 4 semakin membuat para pelapak Pasar Wit-Witan semakin tak berdaya. Satu misal seperti yang dialami salah satu pelapak bernama Jaenah warga Dusun Wonorekso Desa Alasmalang. Yang kebiasaannya untuk kebutuhan hidupnya mengandalkan berjualan kuliner di Pasar Wit-Witan yang hanya sekali dalam seminggu.

Kini kata Jaenah saat dikonfirmasi awak media mengaku untuk memnenuhi kebutuhan hidupnya sehari-sehari. Nunggu undangan warga tetangga yang butuh layanan pijat yang itupun belum tentu tiap hari ada.

“Karena Pasar Wit-Witan tutup gak bisa jualan, untuk kebutuhan makan saya mijat kalau ada orang butuh layanan pijat mas”, tutur Jaenah dengan polosnya.

Jaenah dan warga yang lain sesama pelapak berharap ada kelonggaran, agar Pasar Wit-Witan bisa dibuka kembali. Harapan yang sama disampaikan rekan Jaenah sesama pelapak, “Enggeh mas…nek saget Pasar Wit-Witan dibukak maleh (Iya mas…kalau bisa Pasar Wit-Witan dibuka lagi)”, ungkapnya lirih.

Ketika ditanya apakah selama PPKM sudah dapat bantuan ?, dijawab oleh keduanya dapat tapi bantuan yang diterimanya hanya cukup untuk beberapa hari saja.

Sementara Endang selaku Ketua Bumdes yang diketahui sebagai pemengang komando pengelolaan Pasar Wit-Witan. Ketika dikonfirmasi kepada awak media memberikan keterangannya merespon aspirasi para pelapak mengaku hari Senin akan menemui dan berkoordinasi dengan Camat.

“Siap mas nanti hari Senen saya koordinasi sama Bapak Camat”, respon Endang.

Sekilas awak media dapati pemandangan kondisi Pasar Wit-Witan yang cukup lama tak terambah pengunjung itu, sintru. Yang biasanya pada hari Minggu terlihat ramai pengunjung, kini pemandangan yang seperti itu tak tampak lagi. Pasar Wit-Witan berubah wajah jadi lesu, tak mampu lagi tersenyum bujuk rayu siapapun untuk singgah barang sebentar saja. (r35).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *