Siklon Tropis Seroja di NTT Telan Puluhan Jiwa, Porakporandakan Ribuan Rumah, Ungsikan Ribuan Warga

  • Whatsapp
Kondisi rumah di Adonara akibat banjir bandang pada Minggu (4/4/2021) dini hari.

KABAROPOSISI.NET|NTT – Bencana Alam banjir badang, longsor, gelombang tinggi dan angin kencang menerjang sejumlah wilayah di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Minggu (4/4/2021). Bencana alam tersebut menelan korban puluhan jiwa dan memporakporandakan hunian warga dan sejumlah fasilitas umum.

Salah satu wilayah terdampak bencana yang dipantau media ini adalah Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur. Intensitas hujan yang tinggi pada tanggal 3-4 April 2021 mengakibatkan banjir bandang dan longsor.

Banjir badang dan longsor yang dipicu oleh intensitas hujan yang tinggi pada tanggal 3-4 April 2021 itu menerjang 3 Desa Nelelamadike di Kecamatan Ile Boleng, Kelurahan Waiwerang dan Desa Waiburak Kecamatan Adonara Timur, Desa Oyang Barang dan Pandai di Kecamatan Wotan Ulumado dan Desa Duwanur Kecamatan Adonara Barat.

Sebelumnya pada Sabtu (3/4/2021), angin kenjang serta gelombang laut setinggi 3 meter memporakporandakan puluhan rumah warga pesisir Desa Adonara Kecamatan Adonara dan Desa Homa, Kecamatan Adonara Barat.

“Waktu saya madih terjaga karena hujan lebat. Hanya dengar gemuruh. Banjir besar itu datang pada dini hari. Saudara saudara lain tak sempat menyelamatkan diri karena kondisi saat itu sedang nyenyak. Saya dan keluarga bergegas keluar untuk menyelamatkan diri,” tutur Yosep warga Nelelamadike yang selamat dari bencana tersebut.

Peristiwa tersebut mengakibatkan 69 orang meninggal dunia, sebagian warga mengalami luka berat dan lainnya menyelamatkan diri. Korban meninggal karena dihantam materal banjir dan tertindih reruntuhan rumah.

Rinciannya, di kecamatan Ile Boleng meninggal dunia sebanyak 57 orang, sudah dievakuasi 40 orang, dan dalam upaya pencarian sebanyak 17 orang.

Informasi yang dihimpun media ini pada Senin (5/5/2021) sore, sinergitas antara warga dan Tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi jenazah korban bencana banjir di Desa Nelelamadike. Sebanyak 57 orang meninggal dunia. Telah dievakuasi sebanyak 40 orang dan dalam upaya pencarian sebanyak 17 orang.

Sementara di Waiwerang kecamatan Adonara Timur ada 9 orang dengan rincian, 7 orang sudah dievakuasi dan 2 orang dalam pencarian. Dan di kecamatan Wotan Ulumado 3 orang sudah dievakuasi.

Sementara di kecamatan Adonara Timur ada sembilan orang dengan rincian, 7 orang sudah dievakuasi dan 2 orang dalam pencarian. Dan di kecamatan Wotan Ulumado 3 orang sudah dievakuasi.

“Total korban yang meninggal dunia 69 orang dan 19 orang dalam upaya pencarian. Ada pun jumlah korban keseluruhan adalah 119 orang. Dengan rincian 50 orang dinyatakan selamat dan meninggal dunia 69 orang. Sementara 19 orang masih dalam pencarian. Data mengenai para korban dan masyarakat terdampak masih dapat berubah mengikuti perkembangan di lapangan,” terang Wakil Bupati Flores Timur Agustinus Payong Boli, SH. MH, kepada wartawan.

Hingga saat ini, masyarakat dibantu oleh tim SAR gabungan masih terus melakukan evakuasi dan pencarian korban.

Kemudian kerugian materiil yang dilaporkan meliputi 17 unit rumah hanyut, 60 unit rumah rusak, puluhan rumah terendam banjir, 4 jembatan putus.

Hampir Semua Kabupaten di NTT Terdampak Bencana

Peristiwa banjir bandang juga terjadi di Kabupaten Lembata, Kabupaten Alor,Kabupaten Malaka, Kabupaten Kupang, Kota Kupang, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Ende, dan Pulau Sumba.

Menurut hasil laporan pendataan korban bencana banjir bandang pada keterangan tertulis Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Dr. Raditya pada Selasa (6/4/2021) 21.00 WITA, Kabupaten Alor 21 meninggal dunia, hilang 20 orang, Kabupaten Malaka korban meninggal 3 orang, Kota Kupang 1 orang meninggal dunia , Kabupaten Kupang 1 orang meninggal dunia, Kabupaten Lembata sebanyak 28 orang meninggal dunia dan hilang 44 orang sehingga total korban mencapai 72 orang, Kabupaten Sabu Raijua dilaporkan 2 orang meninggal dunia, Sementara di Kabupaten Ende 1 orang meninggal. Total meninggal 117 orang dan hilang 76 orang.

Ribuan Rumah Warga dan Ratusan Fasilitas Umum di NTT Terdampak Cuaca Ekstrem

Per Senin (5/4/2021), Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat 1.962 unit rumah terdampak bencana, 119 unit rumah rusak berat (RB), 118 unit rumah rusak sedang (RS) dan 34 unit rumah rusak ringan (RR). Sedangkan, fasilitas umum (fasum) 14 unit rusak berat, 1 rusak ringan dan 84 unit lain terdampak. Berikut Rincianya :

Kota Kupang

– 10 unit rumah RS
– 657 unit rumah terdampak

Kabupaten Flores Timur

– 82 unit rumah RB
– 34 unit rumah RR
– 97 unit rumah terdampak
– 8 unit fasum RB

Kabupaten Malaka

– 1.154 unit rumah terdampak
– 65 fasum terdampak

Kabupaten Ngada

– 4 unit rumah RB
– 2 unit rumah RS
– 1 fasum terdampak

Kabupaten Sumba Barat

– 54 unit rumah terdampak

Kabupaten Sumba Timur

– 7 fasum terdampak

Kabupaten Rote Ndao

– 12 unit rumah RB

Kabupaten Alor

– 21 unit rumah RB
– 106 unit rumah RS
– 6 fasum RB
– 1 fasum RR
– 11 fasum terdampak

Dr. Raditya Jati Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB mengatakan, saat ini BPBD kabupaten dan kota dibantu dengan multipihak masih terus melakukan penanganan darurat bencana, seperti evakuasi, penyelamatan, pelayanan di pengungsian, distribusi logistik maupun pembukaan akses ke wilayah terisolir.

“Kementerian dan lembaga di bawah kendali BNPB juga memberikan dukungan kepada pemerintah daerah terdampak cuaca ekstrem tersebut,” kata Dr. Raditya.

8424 Warga NTT Mengungsi

Berdasarkan data Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB per Senin (5/4), pukul 23.00 WIB sebanyak 2.019 KK atau 8.424 warga mengungsi serta 1.083 KK atau  2.683 warga lainnya terdampak. Pemerintah daerah terus memutakhirkan data dari kaji cepat di lapangan. Warga yang mengungsi tersebar di lima kabupaten di wilayah Provinsi NTT.

Pengungsian terbesar diidentifikasi berada di Kabupaten Sumba Timur dengan jumlah 7.212 jiwa (1.803 KK) , Lembata 958, Rote Ndao 672 (153 KK), Sumba Barat 284 (63 KK) dan Flores Timur 256 jiwa.

BMKG Sebut Siklon Seroja Penyebab Terjadinya Bencana Alam di NTT

BMKG sebagai Jakarta Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) sejak tanggal 02 April 2021 telah mendeteksi adanya Bibit Siklon Tropis 99S yang mulai terbentuk di sekitar Laut Sawu, Nusa Tenggara Timur.

BMKG telah mengeluarkan rilis informasi potensi cuaca ekstrem sebagai dampak dari bibit siklon tersebut sejak tanggal 02 April 2021 Keberadaan bibit siklon tropis 99S tersebut menimbulkan terjadinya cuaca ekstrem yang signifikan berupa hujan sangat lebat, angin kencang, gelombang laut tinggi, dan berdampak pada terjadinya bencana hidrometeorologi di beberapa wilayah di Nusa Tenggara Timur.

Bibit Silikkn Tropis 99S (Gbr : BMKG)

Berdasarkan analisis terbaru tanggal 04 April 2021 jam 19.00 WIB, bibit siklon tropis 99S berada di posisi Perairan Kep. Rote, Nusa Tenggara Timur, 10.3LS, 123.5BT (sekitar 24 km sebelah barat daya Kupang) dengan arah pergerakan sistem ke arah Timur hingga timur laut dengan kecepatan 3 knots (6 km/jam) bergerak menjauhi wilayah Indonesia. Kecepatan angin maksimum disekitar sistemnya adalah 30 knots (55 km/jam) dengan tekanan di pusat sistemnya mencapai 996 hPa.

Diperkirakan intensitas Bibit Siklon Tropis 99S masih akan menguat dan mencapai intensitas siklon tropis pada dini hingga pagi hari (6-12 jam kedepan) sekitar jam 18 UTC atau 01.00 WIB tanggal 05 April 2021. Mengingat bahwa sistem sikon tropis tersebut masih berada di wilayah tanggungjawab Jakarta TCWC, maka nama siklon tropis yang akan diberikan adalah “SEROJA” sesuai dengan urutan nama siklon tropis dari BMKG secara internasional.

Bibit Siklon Tropis 99S memberikan dampak terhadap cuaca di Indonesia berupa potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai kilat/petir serta angin kencang di wilayah Nusa Tenggara Timur. Gelombang laut dengan ketinggian 2.5 – 4.0 meter di Selat Sumba bagian barat, Laut Flores, Perairan selatan Flores, Perairan selatan Pulau Sumba, Laut Sawu, Selat Ombai, dan Laut Banda selatan bagian barat serta gelombang laut dengan ketinggian 4.0 – 6.0 meter di Perairan Kupang-Pulau Rotte, Samudra Hindia selatan NTT, dan Laut Timor selatan NTT. (go’e-F1)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *