PT Dwi Jaya Cocomas Indonesia Berusaha Pertahankan Produksi di Masa Pandemi

  • Whatsapp

KABAROPOSISI.NET | BANYUWANGI – Dampak mewabahya Virus Corona (Covid-19) di Indonesia benar-benar luar biasa terhadap perekonomian. Dari berbagai sumber informasi diketahui tak sedikit pengusaha yang berusaha bertahan dari akibat dampak Covid-19.

Tak terkecuali juga bagi PT Dwi Jaya Cocomas Indonesia (DJCI) sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan “kulit kelapa”. Sebuah Pabrik Coconut Fibber yang berada di wilayah Dusun Tegalrejo, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi ini. Terus berjalan berusaha keras pertahankan produksinya di masa pandemi yang menjadi-jadi dan tak jelas kapan berakhirnya.

Untuk informasi lebih lanjut awak media mencoba konfirmasi Bra Brascoro, M.Hum.,M.Si Direktur PT. Dwi Jaya Cocomas Indonesia (DJCI).

“Iya mas di masa pandemi ini kami berusaha untuk tetap bertahan berproduksi meski sebenarnya sulit dan perlu kerja keras karena tidak se mudah seperti sebelum masa pandemi ” tuturnya sedikit lesu Kamis 4/2/2021.

Lanjut Direktur yang lebih akrab dengan sebutan nama Baskoro itu, menyampaikan alasan kenapa perusahaannya harus tetap berjalan. Dikatakannya karena banyak sekali pertimbangan-pertimbangan, yang salah satunya adalah memikirkan nasib 70 orang pekerja.

“Alasan kami tetap bertahan berproduksi bahkan jadi pertimbangan utama kami adalah nasib 70 pekerja di pabrik ini. Andai kami menyerah begitu saja pada kondisi sulit ini, yang kami bayangkan ke mana dan bagaimana nasib 70 orang karyawan ini,” lanjutnya.

Ketika awak media singgung soal legalitas kegiatan usahanya, Baskoro uraikan bahwa untuk legalitas kegiatan usaha. Perusahaannya telah mengikuti prosedur sebagaimana yang berlaku di Kabupaten Banyuwangi. Semuanya sudah terurus dengan baik sehingga tidak ada lagi masalah.

Oleh karenanya kata Baskoro fokus saat ini adalah bagaimana mempertahankan produksinya di massa pandemi ini. Meski sebenarnya Baskoro menyadari bahwa di massa pandemi seperti ini tentu tidak mudah untuk bisa bertahan.

“Alhamdulillah masalah legalitas atau ijin usaha, sudah kami urus sebagaima prosedur yang berlaku. Fokus kami saat ini bagaimana perusahaan tetap bisa produksi dan jadi sumber penghidupan 70 karyawan yang semuanya adalah penduduk lokal sekitar pabrik ini” ungkapnya di akhir penyampainnya. (r35).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *