Penetapan/Pengangkatan Kepala Dusun Macan Putih Utara, Masih Jadi Persoalan

  • Whatsapp

KABAROPOSISI.NET | BANYUWANGI – Puluhan warga dan tokoh masrakat Dusun Macan Putih Utara Desa Macan Putih Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi. Senin 28/12/2020 sekira pukul 10:00 Wib, datangi Kantor Desa klarifikasi terkait penetapan dan pengangkatan Kepala Dusunnya. Di Pendopo Desa puluhan warga dan tokoh masyarakat Dusun Macan Putih Utara diterima dan ditemui oleh Kepala Desa M. Farid didampingi Sekdesnya, Bhabinkamtibmas dan Babinsa Desa Macan Putih.

Informasi yang didapat awak media bahwa hal tersebut terjadi berangkat dari hasil Pemilihan Kepala Dusun di bulan September lalu. Yang mana pada Pilkadus saat itu dari 4 calon diperoleh hasil pemungutan suara yaitu Calon Nomer Urut 1 atas nama Sururi dengan perolehan suara 89 suara, Calon Nomer Urut 2 atas nama Jarwani dengan perolehan suara 89 suara, Calon Nomer Urut 3 atas nama Abd. Aziz, S.Pdi dengan perolehan suara 34 suara, dan Calon Nomer Urut 4 atas nama Abd. Aziz dengan perolehan suara 24 suara.

Yang jadi persoalan adalah dari 4 Calon tersebut 2 Calon memperoleh suara yang sama (drow) yaitu Calon atas nama Sururi dan Jarwani sebanyak 89 suara. Menurut versi masyarakat dan tokoh kenapa diperoleh suara drow tidak dilakukan pemilihan ulang untuk menentukan Calon Kadus terpilih. Tetapi Kepala Desa kemudian menetapkan/mengangkat Kadus Macan Putih Utara atas nama Sururi menggunakan hak prerogatifnya.

Rupanya kedatangan warga dan tokoh masyarakat Dusun Macan Putih Utara sudah diketahui maksud dan tujuannya oleh Kepala Desa M. Farid. Sehingga dalam sambutannya Kades langsung saja memberikan penjelasan terkait proses penetapan/pengangkatan Sururi sebagai Kepala Dusun Macan Putih Utara. Kades M. Farid jelaskan bahwa penetapan/pengangkatan Kadus Sururi tidak ujuk-ujuk dilakukan tetapi melalui proses dan sudah prosedural.

Urainya, bahwa pasca pemilihan Kepala Dusun secara langsung di bulan September lalu, ada jeda waktu cukup lama tidak dilakukan penetapan Kepala Dusun Terpilih. Dengan pertimbangan barangkali pasca Pilkadus ada ketidakpuasan atau protes dari masyarakat. Bahkan Kades M. Farid mengaku pernah menyampaikan  dalam musyawarah di serambi Masjid  bakdo sholat Jumat, bahwa karena terjadi drow maka penetapannya dikembalikan kepada Pemerintah Desa. Dan saat itu tak satupun masyarakat ada yang merasa keberatan dan tidak protes.

Tak hanya itu menurut Kades dalam penjelasannya sebelum dilakukan penetapan/pengangkatan. Panitia dan Calon yang drow perolehan suaranya dikumpulkan dan ditawarkan apakah akan dilakukakan pemilihan ulang. Baik Panitia, Sururi maupun Jarwani saling legowo sepakat untuk tidak dilakukan pemilihan ulang dan dikembalikan ke Pemerintah Desa penetapan/pengangkatannya. Selanjutnya untuk bahan pertimbangan penetapan/pengangkatan Sururi sebagai Kepala Dusun Macan Putih Utara merujuk pada hasil tes/seleksi Calon sebelum digelar Pilkadus.

Merespon penjelasan Kades, beberapa perwakilan yang hadir bersikukuh menuntut penetapan/pengangkatan Kadus melalui pemilihan ulang dengan berbagai argumennya. Salah satu alasannya karena dari awal dimulai dengan cara pemilihan (demokrasi), maka ketika terjadi drow harus dilakukan pemiliham ulang. Tentang kesepakatan dua Calon untuk tidak dilakukn pemilihan ulang dan dikembalikan ke Pemerintah Desa yang disampaikan oleh Kades sebelumnya. Masyarakat mengaku tidak pernah ada sosialisasi dari RT tentang adanya kesepakatan tersebut dan tidak dilibatkan didalamnya.

Tentang apa yang pernah disampaikan oleh Kades di Masjid, masyarakat diam tidak protes bukan berarti setuju, tetapi karena sungkan berdebat di dalam Masjid. Sementara ada yang menyampaikan bahwa dengan ditetapkannya Sururi sebagai Kadus tanpa melalui pemilihan ulang terjadi gejolak di masyarakat. Dengan alasan demi kondusifnya masyarakat, yang hadir meminta dengan hormat agar dilakukan pemilihan ulang. Dan hasilnya siapapun yang terpilih tetap akan diterima dan diakui sebagai Kepala Dusunnya.

Sementara Bhabinkamtibmas dan Babinsa Macan Putih pada kesempatan tersebut menjadi penengah yang baik. Pada dasarnya mengabdi pada hasil musyawarah antara Kepala Desa dengan masyarakat. Apapun hasilnya yang penting tidak mengganngu ketertiban dan keamanan masyarakat.

Di penghunjung Kades M. Farid selaku Kepala Desa dengan arif tidak serta merta menolak tidak juga mengamini tuntutan masyarakatnya. Meski sempat terjadi debat namun Kades M. Farid pada dasarnya tetap menerima dengan baik aspirasi yang disampaikan masyarakatnya. Suasana terkendali setelah Kades M. Farid lontarkan kalimat bahwa hasil musyawarah hari itu jadi bahan pertimbangan untuk memutuskan dilakukan pemilihan ulang atau tetap pada keputusan semula.

Kades M. Farid memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk berfikir bagaimana terbaiknya. Sementara dari pihak Pemerintah Desa juga minta waktu melakukan musyawarah dengan para pihak terkait menentukan langkah apa yang paling tepat agar tidak ada yang saling dirugikan satu sama lainnya. (r35).

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *