Diskusi Dan Belajar Bareng, Wajib Bagi Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT)

  • Whatsapp

KABAROPOSISI.NET|Sidoarjo, –  Pemimpin Redaksi Kabaroposisi.net  Prapto menegaskan, ” media verifikasi maupun belum, dan juga wartawan yang belum UKW jangan minder dalam berkarya, kami tegaskan bahwa uji kompetensi itu harusnya pimred kepada wartawannya, kenapa demikian dikarenakan tujuan redaksi yang tertuang dalam visi dan misinya yang lebih mengerti adalah PT dan struktural redaksi, UKW bukanlah standarisasi wartawan dan tidak fardhu bagi kami untuk ikut UKW” , tegas Prapto.

Dalam menumbuhkan rasa semangat pada diri Jurnalis (Wartawan), Komunitas Jurnalis Jawa Timur (KJJT) gelar belajar dan diskusi bareng guna memperjuangkan anti diskriminasi dalam hubungan hidup sosial.

“Agar organisasi tidak mudah luntur dan terus hidup, salah satu kunci utama yang didorong KJJT adalah semangat egalitarian, semangat untuk memperjuangkan anti diskriminasi, karena kita semua adalah saudara,” kata Isma Hakim Rahmat bendahara KJJT saat menghadiri pertemuan konsolidasi pembentukan KJJT Sidoarjo, Minggu (27/9) malam, di Sidoarjo.

Tak hanya itu, Isma juga menyebut, selain memperjuangkan semangat egalitarian anti diskriminasi, KJJT juga akan memberi pembekalan kepada anggotanya melalui pendidikan jurnalistik hingga menempuh jenjang Uji Kompetensi Wartawan (UKW) Dewan Pers. Dengan konsep model sekolah yang menurut dia sangat unik, yang tidak pernah terpikirkan seperti orang orang yang berpendidikan di perguruan tinggi.

“Karena kita langsung handeling secara step by step, langsung praktek dan disitu ada banyak pengayaan,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua KJJT Slamet Maulana biasa disapa Ade mendukung dengan dibentuknya KJJT Sidoarjo ini. Ia juga mendorong kepada anggota KJJT yang ada di daerah untuk segera menyusul membentuk struktural kepengurusan. Agar anggota KJJT yang ada di daerah tetap bisa solid rutin mengadakan pertemuan dengan KJJT di daerahnya dan bisa bersama sama untuk terus belajar.

“Kita lepas atribut, dan bersama-sama kita sinau bareng,” kata Ade.

Dikatakan Ade, dengan kegiatan sinau bareng, nantinya akan bisa mengembalikan khitah dan marwah jurnalis yang sudah carut marut dan silang sengkarut belakangan ini. Seperti halnya wartawan berasa penyidik, wartawan berasa LSM, wartawan berasa sebagai aparat, dan masih banyak lagi. Ujung – ujungnya mereka tidak bisa menulis berita layaknya produk jurnalistik. (pr@)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *